Berguru Pada Kecoa… Siapa Takut?!

Jika para freelancer menganggap menjadi sebuah kewajiban untuk menjadi kecoa, kita yang kaum wajar pun bisa. Nih, lihat artikelnya salah seorang Kru Ruang Freelance : Freelancer itu (harus) Seperti Kecoak!

Bisa apa kita? Bisa belajar saja, pada para kecoa.

Hah, apa itu wajar? Maksudnya, jika mereka menjadi freelancer dan berguru pada kecoa sebagai keperluan – maka kita yang (mungkin) bukan freelancer akan menganggap kecoa sebagai sebuah pelajaran kehidupan sangat sulit yang sekaligus sangat penting dipelajari.

Jika di artikel rekan di Ruang Freelance (oleh dia yang mengaku bernama Hafiz Rahman) ada lima analogi kecoa yang dapat dipelajari, maka saran saya untuk kita-kita yang akan belajar bersama kecoak cukup tiga saja..! Horee..

Apa sajakah itu? Ini dia :

* bertahan di segala kondisi (alias : tangguh!)
* kecoa punya indra sensitif (peka dan memanfaatkan intuisi, serta hati nurani kita)
* hubungan antar kecoa bisa menjadi interaksi cerdas antar individu dan individu lain (nah, ini paling penting, sebab manusia memang takdirnya untuk menjadi makhluk sosial alias saling kebergantungan antar sesamanya)

Kehidupan adalah suatu bentuk yang dinamis, bahkan kadangkala terlalu dinamis sehingga hukum rimba bisa berlaku. Hukum rimba itu dikenal dengan kalimat umum, “siapa cepat dia dapat!“.

Belajar dari kecoa

Lalu saya juga iseng googling dan menemukan artikel di Kompasiana oleh Kafi Kurnia : Ilmu Kecoa Darwin. Saya pribadi kurang menyukai Teori Evolusi Darwin. Namun, belum kesampaian mengulas itu. Oke, mari kita kembali ke artikel yang benar.

Saya kutipkan potongan menariknya di akhir paragraf :

“Kita tidak akan pernah bisa lolos dari perubahan. Itu sebabnya perubahan mesti kita siasati dengan bijak. Apakah kita tetap survive dan bisa memanfaatkan perubahan ? Atau kita dikalahkan perubahan dan musnah sekaligus ! Di titik ini barangkali kita semua perlu belajar pada kecoa.”

Namun, dari semua rujukan di atas, tetap saja kita kan manusia.

Maka, tetaplah menjadi manusia.

* Boleh menjadi tangguh, tetapi jangan sampai menyakiti sesama manusia lain. Menyakiti di sini bukan melulu bentuk fisik lho. Melanggar hak juga termasuk bentuk menyakiti.
* Boleh menjadi sensitif, tetapi jangan berlebihan. Nanti malah jadi paranoid, atau minimal dikira lebay (bahasa gaul, yang artinya berlebihan…)
* Interaksi cerdas perlu, interaksi biasa saja atau saya menyebutnya “interaksi idiot” juga perlu. Tidak setiap detik dalam hidup kita perlu berkompetisi. Adakalanya kita perlu berbagi, dan berkorban bahkan, asalkan berkorban dengan sukarela.

Ritme hidup yang terlalu cepat adalah konsekuensi logis perkembangan peradaban. Namun, adakalanya kita perlu mengurangi laju ritme hidup kita, untuk mengatur strategi lain dan siap beraksi bagaikan kecoa, Tak Terkalahkan!

Dengan uraian di atas, saya hanya sedang mengajak :

Mari kita menjadi manusia yang mampu belajar hal positif dari kecoa dan tetap menjadi manusia.

Sebab saya yakin, setiap dari kita selalu membutuhkan kedua bagian itu dalam hidup dan menjalani kehidupan. Yaitu: dinamis, dan ketenangan.

SUMBER : TWENTEA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s