Taxi Blue Bird di Medan

Sebagai sosok manusia yang tidak sempurna, saya juga pernah mengeluh. Seperti pada postingan sebelumnya, saya mengeluh tentang kondisi jalanan kota Medan yang macet karena masalah parkir yang semrawutan. Hal ini tidak lepas karena pertambahan kendaraan yang berlangsung terus menerus, entah itu kendaraan milik pribadi atau kendaraan pengangkutan umum.

Barangkali kebutuhan masyarakat akan kendaraan pribadi, didasarkan kepada kebutuhan akan keleluasaan berpindah tempat yang tidak terbatas kepada rute trayek (sebuah jasa yang sudah diakomodir oleh angkot kota Medan). Terkait isu ini, sebenarnya sudah ada opsi yang sejak jaman-entah-kapan sudah hadir di kota Medan, yaitu becak dan taksi serta ojek (walaupun yang terakhir belum meng-cover seluruh kota Medan).

Entah siapa yang memulai, tapi untuk ketiga jenis angkutan tersebut, selama ini sistem tariff yang berlaku adalah “nego harga” antara pengemudi dengan calon penumpang. Jika harga yang dirasa cocok, barulah status calon penumpang beralih menjadi penumpang. Ya.. ketiga-nya, taksi pun tak terkecuali. Sesuatu yang janggal mungkin bagi Anda yang mengenal taksi dengan sistem argo. Seperti kata orang sini

ini Medan, bung

Tak heran saya dulu sempat terkejut ketika berada di kota Jakarta, dimana teman-teman kerap menggunakan jasa taksi dengan benar-benar nyaman. Tinggal stop, langsung naik, dan sebut tujuan.

Barangkali karena kondisi itu, saya termasuk orang yang paling jarang menggunakan jasa taksi di kota Medan ini. Cukup beralasan, menurut saya, karena tariff hasil negosiasi pasti terbilang lebih mahal dibandingkan dengan jasa becak yang menawarkan AC alami plus debu jalanan.

Rupanya, tanpa saya sadari, sebuah culture shock menghampiri bisnis taksi di kota Medan. Taxi Blue Bird sudah mulai menawarkan apa yang saya sebut layanan profesional. Tariff yang mengikuti argo, dan layanan driver yang ramah (baca: tidak “memaksa” penumpang), sepertinya menawarkan perubahan paradigma masyarakat Medan terhadap layanan taksi.

Blue Bird

Konsekuensinya?

Saya tidak meng-amin-kan Blue Bird suatu hari akan “membunuh” bisnis taksi yang lain. Tapi saya justru berharap ini bisa menjadi “tamparan” bagi pengelola bisnis taksi yang lain (termasuk para driver-nya) untuk berhenti memanfaatkan kondisi terjepit para calon pelanggan. Sudah saatnya kan jasa dijajakan selayaknya sebuah layanan jasa? Dipilih sesuai dengan apa yang menjadi nilai jualnya, bukan mengharapkan keberuntungan (untung dapat supir baik, untung dapat supir yang jual murah, untung dapat mobil yang gak bau)

Buat yang butuh, ini nomor telepon untuk penjemputan: 061-8461234

SUMBER : BLOG NICH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s